|
Menyegarkan
kembali pemahaman kita tentang Keterlibatan Sosial
Gereja
Stop judi, basmi
narkoba, dan hentikan korupsi !
Pdt.Maulinus Siregar*)
Pengantar
HKBP patut berterimakasih,
gerakan moral menentang seluruh bentuk dan praktek
perjudian, narkoba dan korupsi dikritisi oleh harian
daerah Sinar Indonesia Baru secara gencar dalam setahun
terakhir ini. Meski mendapat ancaman dan berbagai upaya
‘politisasi’ untuk menjatuhkan citra, bahkan niat yang
lebih besar dari itu, puji syukur, suara kenabian
harian ini ternyata tidak dapat dihentikan. HKBP,
sejatinya membutuhkan harian ini menjadi mitra kerja
untuk menyuarakan suara profetik gerejawi kita.
Di bulan Mei lalu,
tepatnya tanggal 13, Pdt.Dr.Binsar Nainggolan berhasil
menyelesaikan studi S3-nya dari Fakultas Filsafat I,
Institut Teologi Protestan, Universitas Regensburg,
Jerman. Disertasi yang dipertahankan pada sidang senat
guru besar, dibawah pembimbing utama Prof.Dr.Dr.h.c.Hans
Schwarch adalah “ The Sosial involvement of Adolf
von Harnack, A critical assessement “ (
Keterlibatan sosial Adolf von Harnack, suatu tinjaun
kritis ). Untuk itu segenap ucapan syukur layak
dinaikkan bagi Tuhan Yesus Kristus, Raja gereja yang
telah memimpin hidupnya sampai kembali ke tanah air
dengan sehat dan menjadi Doktor Teologi ke-9 HKBP yang
lulus dari Jerman.
Disertasi ini menyumbang
pemikiran yang berharga bagi gereja HKBP di
tengah-tengah kehidupan bangsa kita, yang saat ini,
sedang menghadapi krisis besar, hampir di setiap aspek
kehidupan kita, antara lain : sosial, politik,
pendidikan, budaya, agama, ekonomi dll. Penderitaan
manusia Indonesia bertambah menumpuk dari hari ke hari.
Menyebabkan meningkatnya angka bunuh diri, bertambahnya
pasien penghuni rumah sakit yang terus bertebaran di
mana-mana, serta angka kemiskinan yang telah menjadi 27
juta jiwa. HKBP sebagai institusi religius yang masih
punya komitmen tinggi, diharapkan lebih proaktif dan
progresif untuk bertindak mencari solusi untuk itu. Kita
perlu membangun hubungan kerja yang sinergis yang
mengundang keterlibatan semua pihak yang terkait dalam
suatu simpul kerja yang kokoh. Kita sudah perlu membuang
segala bentuk kecurigaan, penilaian negatif, dan
perasaan alergi bekerja bersama dengan saudara kita
berbeda : hereditas/warisannya maupun performance/tampilannya.
Panggilan dan seruan tema rapat pendeta HKBP tahun ini :
“Berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Dan sub-thema
: “ Pendeta HKBP menjadi pelayan yang menghayati
pelayanan Koinonia, Marturia dan Diakonia, yang inklusif,
dialogis dan terbuka.” semestinya tidak kurang
membekali kita untuk memulai karya-karya sosial gerejani,
bahkan pendampingan hidup bagi warga kita yang tertekan,
tertindas dll. Biarlah suara keadilan dan kebenaran
serta hidup dengan rendah hati menjadi identitas gereja
kita yang baru.
Sejarah sebagai
ruang pembelajaran
Settting Jerman pada
abad 19 dan awal abad 20 sarat dengan
persoalan-persoalan besar yang dihadapi oleh gereja.
Meskipun, dengan telanjang, persoalan itu sudah di depan
dimata, tetapi tidak sedikit gereja yang tidak peduli
dan malah alfa mencari jawaban yang mampu menyejukkan
kedahagaan umat. Dalam disertasi Dr.Binsar itu, ia
mengangkatnya dalam tiga pertanyaan penting untuk dikaji
dan menjadi titik acu perambahan intelektualnya , yaitu
: pertama, keprihatinan Adolf von Harnack
melihat kurangnya kesadaran tentang pentingnya pelayanan
sosial gereja di tengah-tengah kehidupan warga jemaatnya,
yang terkena imbas industrialiasi. Antara lain : dengan
munculnya jurang antara pemodal dan buruh. Kedua,
penafsiran gereja yang keliru tentang keterlibatan
sosialnya di arena kehidupan, dalam ranah sosial,
ekonomi dan politik. Ketiga, kebhinekaan
ideologi dan cara berpikir ( ways of thinking ) pada
masa itu, seperti : pietisme, pencerahan, materialisme,
ateisme, marxisme, sosialisme, dst.
Adolf von Harnack, tokoh
yang menjadi objek studi itu lahir sebagai anak dari
satu keluarga pendeta Lutheran yang pietis di Jerman.
Lingkungan pietis menyumbang pengaruh yang penting pada
tahap awal kehidupannya sebagai seorang teolog. Termasuk
juga dalam pemahaman dan pemikirannya serta segenap
keterlibatan sosialnya. Situasi kehidupan masa itu yang
masih didominasi pandangan pietis ( dari kata Latin
“pietas”, yang artinya perasaan yang
diwajibkan bagi Tuhan dan umat manusia dalam bentuk
kesalehan, kebaikan, belas kasihan, kesuciaan dll ) mendorong
masyarakat untuk terlibat secara sosial dalam kegiatan
yang karitatif menolong orang yang kesusahan.
Namun pencerahan yang
lahir pada zamannya menjadi factor utama yang mengubah
pemahaman dan pemikirannya tentang keterlibatan sosial.
Harnack lebih jauh dari itu mulai menyuarakan untuk
menafsirkan isi Injil itu dengan cara baru, sehingga
kabar sukacita Yesus itu dapat diberlakukan di dalam
kehidupan masyarakat. Puncak dari keterlibatan sosialnya
adalah dengan melahirkan Kongres Sosial Protestan.
Lembaga yang didirikan ini berfungsi sebagai forum untuk
mendengar public tentang apa perlakuan yang kurang baik
yang mereka alami dalam pekerjaan mereka sebagai buruh.
Lalu, forum ini terus meluas dan memiliki pengaruh
yang besar di jamannya. Dalam banyak perjuangan Harnack,
gereja Protestan Prusia justru berdiri berseberangan
dengan pandangan-pandangan dan kegiatan-kegiatan Kongres
Sosial Protestan.
Dalam ruang kesejarahan
HKBP, kita pernah melintasi jalan yang terjal, penuh
kerikil dalam kehidupan gerejani kita. Ada saat kita
diam tak berbicara. Ada masa kita enggan, takut dan
menjauhkan diri dari cercaan karena pilihan-pilihan yang
kita ambil. Akhirnya kita bersumbunyi dengan rasa aman
yang tinggi, moralisme tertutup yang mengurung kita
dalam bertindak di suatu ruang sosial hidup bersama
masyarakat yang luas. Di masa krisis seperti saat ini,
HKBP harus menyegarkan pemahamannya akan keterlibatan
sosialnya. Forum rapat pendeta HKBP tahun ini, saya
harap dengan sungguh akan berhasil menelorkan berbagai
loncatan-loncatan besar dalam penatalayanan kita di
tengah-tengah masyarakat bangsa.
Menafsirkan
ajaran-ajaran gereja kita ?
556 nyanyian dalam Buku
Ende HKBP, kini 864, memuat dan mengandung pemahaman
yang cenderung pietis. Lagu-lagu mengajarkan penderitaan
di dunia harus ditanggung dan dilewati dengan pasrah
karena sorga adalah tujuan hidup kita. Salah ? Tentu
tidak ! Hanya, nyanyian itu dalam pengalaman-pengalaman
keagamaan seseorang ( lih. William James, “The
Varieties of religious experience” ), dari sejak
dini akan menginternalisasikan nilai religiositas yang
sesuai dengan paham yang diajarkan dalam kandungannya.
Kehidupan warga yang diajarkan sejak dini, bahwa
perbedaan adalah subtansi, maka jalan terjal untuk
merajut paham pluralisme akan tertutup rapat tembok
eksklusifitas. Atau suatu jemaat yang di awal pelayanan
seorang pendeta, memberi afeksi dan atensi yang
berlebihan, lalu saat pendeta itu melakukan suatu
kesalahan, maka suara lantang keras dan menghujat
segera akan keluar, sama seperti manisnya pujian di
awal perkenalan. Ruhut Parmahanion dan paminsangon akan
diumbar sebagai ‘kodifikasi hukum’.
Dua analogi di atas
membantu kita untuk melihat, betapa sulitnya membangun
pemahaman keagamaan yang benar, apabila ajaran Gereja
yang diwarisi masih tetap mewakili pandangan tunggal
pietis. HKBP saatnya untuk belajar terus menyegarkan
pemahaman keagamaannya. Saatnya untuk mendekonstruksi
segenap ajaran kita yang mungkin sekali sudah usang
ditelan jaman. Atau barangkali sudah terlalu tua untuk
berjalan menuju masa depan. Ecclesia reformata,
ecclesia reformanda (gereja yang reformis adalah
gereja yang mau berubah). Sifat abadi Gereja adalah
berubah terus menerus karena faktor kesejarahan yang
juga sangat berpengaruh sekali dalam membangun dan
membentuk eksistensinya. Dalam menata perubahan itulah
gereja hidup dan menghayati panggilannya di dunia ini.
Dalam terang perubahan,
di depan mata kita : kini, genderang perang terhadap
Judi, narkoba/miras dan korupsi yang terus gencar
dilawan dan diusut, HKBP harus tampil bersama memberi
suara kenabiannya. HKBP tidak boleh mengabaikan
keterlibatan sosialnya lagi. Sehingga tidak perlu ada
lagi pelayan HKBP yang ditangkap oleh opsi perjuangannya,
malah dicerca oleh sesama satohonnya (sepelayanan).
Ingat, Romo Sandyawan, dalam segenap perjuangannya,
gereja Roma Katolik terus gigih memberi dukungan penuh.
HKBP masih dalam terang
rapat pendeta tahun ini, harus menghasilkan komitmen
baru, memorandum 2005 yang mencoba bersuara lantang bagi
segenap perjuangan kita untuk menjadi kesembuhan bagi
bangsa-bangsa. Sekali lagi, mari kita para pendeta,
dibawah terang tema itu untuk menjabarkannya di dalam
lingkungan pelayanan kita masing-masing dalam semangat
inklusifitas, dialogis dan terbuka.
Deklarasikan, segenap
bentuk perjudian, narkoba, korupsi dihentikan dari bumi
Tapanuli khususnya dan Indonesia umumnya. Khotbah
profetis harus terus bergema setiap minggu menyerang
segala penyakit sosial itu. Nyanyian-nyanyian kita
biarlah diangkat untuk memotivasi kita untuk mampu
solider dengan sesama kita.
Terakhir, HKBP semakin
perlu memikirkan pusat kajian studi-studi sosial. Sebuah
forum yang mengundang tokoh lintas agama untuk
mencermati setiap fenomena dalam kehidupan masyarakat.
Lembaga itu akan tumbuh sebagai forum terbuka yang
mencoba akar-akar setiap persoalan sosial di masyarakat,
serta solusi dan alternative aksi yang harus diambil.
Viva HKBP viva Sinar Indonesia Baru.
( Sudah
dimuat di Harian Sinar Indonesia Baru ( SIB ),
Medan-Sumut, Agustus 8 2005 )
*) Pendeta HKBP di
California
1476 S.Mountain View Ave
San Bernardino, CA 92408 USA
 |