|
Mengembalikan HKBP
kepada Jatidirinya
( Catatan
pengantar )
Pdt.Maulinus Siregar
Autentisitas HKBP tengah
diuji ?
Judul di atas dipilih sebagai diskursus pendek, tetapi
penting untuk digumuli bersama. Terutama sekali, ditengah-tengah
segala persiapan kita menjelang pelaksanaan rapat
pendeta HKBP Agustus 2005 ini. Tentu sekali, sulit
dihitung banyaknya bahan percakapan yang muncul dan
sudah digumuli bersama. Secara simultan, keadaan yang
sama belangsung dalam tiap-tiap rapat pendeta distrik pada
dua bulan terakhir ini. Sangat mungkin sekali, nuansa
dan aksentuasinya pun berbeda-beda. Dan itulah yang menambah
indahnya spektrum kemajemukan HKBP : kini. Dengan
itulah kita dapat saling belajar untuk menerima
perbedaan konteks serta realitas pengalaman hidup umat
di masing-masing tempat kita sebagai “human living
document”.
Pertanyaan utama, apakah urgensi rapat pendeta kali ini
? Adakah perhatian kita, utamanya lebih tertuju pada
pemilihan ketua rapat pendeta periode 2005-2009 ? Atau
apakah rapat pendeta kali ini hendak diberdayakan
sebagai salah satu media kritis untuk menangkap isu-isu
sentral yang sedang menggejala, serta tentunya juga
menantang gereja pada waktu yang sama dalam mencari
jawab ? Seterusnya, bagaimana rapat ini dapat merumuskan
dengan tepat isu sentral yang dihadapi gereja, serta
rancang bangun teologi dan praksis hidup menggereja yang
kontekstual serta membumi di tengah arena kehidupan umat
HKBP dalam bangunan besar : berbangsa, bermasyarakat dan
bernegara, yang sungguh-sungguh mejemuk serta berubah
dengan cepat hari-hari ini ?
Dimanakah peran HKBP sebagai persekutuan orang percaya dalam
pemilihan kepala daerah langsung ( Pilkada
) yang potensial menyumbang konflik horizontal antar
elemen masyarakat ? Serta, bagaimana kita menggali
akar-akar teologi HKBP untuk menempatkan dengan tepat
identitas teologi sebagai gereja di tengah-tengah
masyarakat yang pluralistik serta dinamis ? Mengapa visi
gereja kita yang inklusif, dialogis dan terbuka menjadi
sangat penting dijabarkan dalam level operasional untuk
kehidupan umat ditengah-tengah ‘daerah aman’ kita,
termasuk juga kokohnya RPP sebagai ‘kodifikasi hukum’
yang siap menyorot dan menjustifikasi setiap tindakan
kita , terutama apabila ‘keluar’ dari bingkai ‘old
hkbp’ ? Akhirnya, bagaimana kita menjawab
tuntutan warga jemaat kita yang kian hari terus
merindukan khotbah yang hidup, ibadah interaktif yang
menggugah, pelayanan yang menyentuh kebutuhan, sikap
profetik yang sigap dan siaga serta jawaban teologis
terhadap isu-isu kontemporer, seperti : euthanasia,
perkawinan campuran, transplantasi, rekayasa genetic, etika
politik, social ministry ( = diakonia sosial, dll !
Sejatinya, gema Injil yang merasuki seluruh sendi hidup
masyarakat, napak tilas yang diawali 144 tahun lalu,
diretas terus menyebar ke seluruh pelosok tanah air.
Nyanyian pujian syukur, lonceng gereja,
kebaktian-kebaktian rumah tangga, sekolah-sekolah
zending, rumah sakit, pusat-pusat ketrampilan; adalah
beberapa variable utama yang mendorong terjadinya transformasi
masyarakat batak menjadi masyarakat pekerja yang punya
etos hidup kristiani yang tinggi sebagai pandu kehidupan,
di mana dan kemanapun mereka berada. Ini juga yang
mendorong proses differensiasi ( persebaran ) kita,
mulai meninggalkan kampung halaman dan tidak bertumpu
pada satu sektor-melainkan merambah kehidupan yang lebih
luas. Pada waktu itu otentisitas gereja sangat dekat
hubungannya dengan pemberdayaan “masyarakat sipil”.
Di
dalam rapat pendeta HKBP tahun ini, kita berdoa seraya
berharap, setidak-tidaknya isu-isu di atas disoroti.
Jawaban teologis atas berbagai isu dapat distudi dengan
serius. Sementara tanpa mengabaikan hal ini, perhatian
kita pun juga akan terjuju melihat sosok pendeta yang
akan dipilih dalam rapat ini menjadi ketua rapat pendeta
HKBP. Siapa yang akan menarik lokomotif korsp pendeta
HKBP : menuju teologi dan ajaran gereja HKBP yang otentik.
Seandainya diijinkan untuk mencirikan sosok yang akan
dipilih, sebaiknya: i. seorang yang cukup terbuka pada
banyak pandangan. ; ii. rendah hati menerima, mendengar
dan menimbang segala dinamika yang muncul dalam
kehidupan penatalayanan, perkembangan teologi dan ajaran
gereja; iii. mau belajar pada banyak hal , iv. serta
punya kepekaan yang sungguh-sungguh terhadap suka/duka
kehidupan sesama dongan sa-tohonannya. Prasyarat
semacam itu bisa jadi sangat relatif, namun preferensi
ini perlu. Dengan bimbingan kekuatan Roh Kudus sebagai
Gereja ( Jurgen Moltman, The Church in the Power of
the Spirit ) rapat pendeta tahun ini, betul-betul
akan berhasil memilih hamba Tuhan yang sungguh-sungguh
‘terpilih’ untuk menjadi penggiat teologi jemaat HKBP,
sekaligus sahabat yang baik untuk semua. Itulah harapan
kita di masa kini dan mendatang. Mudah-mudahan ketua
rapat pendeta terpilih pun akan menjadi abdi yang tekun
dan rajin membawa isu-isu di atas dalam percakapan
berkelanjutan untuk merambah jalan baru bagi gereja HKBP
yang terbuka dan gereja yang tidak henti menjawab
tantangan jamannya.
Pergulatan Gereja ( HKBP ) dan masyarakat
Martin Luther, sekali waktu berkata ( 1519 Leipzig ) :
“ dimana ada Firman Tuhan, di sana ada iman, dimana ada
iman, disitu ada gereja yang benar “ ( LW 39, xii ).
Gereja, menurutnya harus berkarya dalam terang Firman
Tuhan. Martin Luther, melihat karakter gereja yang benar
adalah gereja yang non-institusional. Itu sebabnya
Luther lebih senang memakai kata ‘sammlung’ ( =
perkumpulan, pertemuan ) dan ‘gemeinde’ ( = persekutuan,
jemaat ), dibandingkan dengan istilah ‘kirche’ ( =
church ). Selanjutnya, Luther mengembangkan pemahaman
gereja sebagai “persekutuan yang tersembunyi” dan
‘persekutuan yang terlihat’. Menurutnya tersembunyi,
karena iman berbicara akan hal-hal yang tidak terlihat (
bdn. Ibrani 11:1 ), sedangkan sebagai persekutuan yang
terlihat adalah karena Injil yang diberitakan dan kedua
sakramen yang dilayankan. Lalu, bagaimana Injil
diberitakan dan sakramen dilayankan dalam realitas hidup
bangsa Indonesia yang, sayangnya, saat ini jatuh dalam
krisis besar dan sepertinya tiada akhir.
Bangsa kita belum berhenti meratap. Bencana dan musibah
menghantam bumi Nusantara. Air mata dan tangisan pun
terus mengalir. Hari-hari kehidupan bangsa kita dilalui
bersama penderitaan, nestafa dan sesahnya hidup. Kita
mulai menggugat, kapan semua ini akan berakhir ? Siapa
yang mesti bertanggungjawab untuk itu ? Tak satu pun
mampu dan berani menjawab !
Malahan hari ke hari kita semakin tak pasti. Lihat.., bencana
nasional semakin menggunung. Demam berdarah, muntaber
yang mewabah, diikuti busung lapar, polio, BBM yang
langka, perjudian yang sulit diputus simpulnya ! Korupsi
yang menggerogoti tubuh bangsa, semantara nilai tukar
rupiah atas dolar melemah kembali. Kekerasan dimana-mana.
Narkoba/ zat adiktif yang semakin akut dan kian sulit
diberantas, karena gerakan pendistribusian yang massif
dan ‘terorganisir rapi’. Sungguh menyedihkan !
Mengerikan ! Ohhh.., air mata tidak pernah berhenti.
Tangisan dimana-mana. Masyarakat bertambah resah, cemas
dan juga takut ! Dalam hati mereka bertanya, masih
adakah fajar bersinar bagi masa depan kita ?
Astaga, kemiskinan terus meningkat tajam. 27-30 juta
penduduk miskin hidup dalam penderitaan yang amat sangat.
Dan angka pengangguran yang tinggi ( = 40 juta ).
Sementara itu, ironika hidup ditampilkan telanjang oleh
segelintir manusia Indonesia di pihak lainnya. Dengan
pongah, mobil-mobil mewah bersiliweran di jalanan
ibukota; berjalan dengan angkuh, seakan tidak mau tahu,
apalagi peduli sama sekali dengan sesama mereka
disekitarnya, yang menghadapi beban penderitaan yg
berat.
Adakah pergulatan masyarakat ( = kita ) itu menjadi
bagian dari pergumulan Gereja ? Adakah mimbar sekedar
hanya berbicara pesan moralis dan terjebak dalam budaya
pasar yang sangat mengandalkan kegunaan dan tergoda
kultur hidup popular : yang enak, mudah, dan
menyenangkan ? Berapa persenkah warga HKBP yang
berhadap-hadapan dengan bencana di atas ? Pertanyan
menggugat barangkali tak jarang akan ditujukan kepada
HKBP Pusat ! Apa yang sudah mereka kerjakan untuk
mengantisipasi dan menanggulanginya ? Bagaimana
kebijakan dan strategi pemberdayaan yang dirancang untuk
menjawab pergulatan hidup masyarakat itu ? Suara-suara
sumbang senada juga , dengan amat mudah akan dialamatkan
ke HKBP Pusat. Namun, sayangnya pertanyaan itu tidak
jarang jauh dari objektifitas dan nalar sehat. Bila
melihat minimnya dukungan yang diberikan huria-huria
untuk memacu pusat untuk bekerja maksimal. Apa yang
dapat dilakukan HKBP Pusat secara maksimal dalam
tugas-tugas advokasi, keterlibatan dan peleburan diri
dalam karya-karya sosial gereja dll, bila berkaca pada
alokasi budgeting yang tersedia ? Sementara itu, di
sisi lainnya, tidak sedikit ‘barrier’ yang menjadi
beban untuk bekerja maksimal hingga kini belum teratasi.
Salah satu contoh : ironi klasik yang masih jadi
“duri dalam daging”, serta tersisa menjadi
pergulatan serius hingga kini, yaitu : aliran dana dari
tidak sedikit huria-huria yang masuknya sangat
tersendat-sendat serta kurang lancarnya pengiriman
setoran persembahan kantong kedua itu. Adakah alasan
disebabkan prasarana yang terbatas di tengah-tengah
kemajuan tehnologi perbankan yang semakin canggih ? Bila
dilihat, sepertinya, masih terdapat unsur ‘kesengajaan’
dan ‘ketegaan”. Apapun motifnya, bisa macam-macam, tapi
tidak dapat dibenarkan, Konon, ada pula yang dengan
maksud sengaja, lalu menyepakati untuk tidak
mengirimkannya ? Hal itu tentunya sangat sulit dipahami
dan tidak boleh dibenarkan. Adakah disadari
persembahan itu sebagai milik Tuhan ? Dan nyanyian
persembahan “nasa na nilehonmi…hupasahat i tu Ho, na so
unsatonku i “ sudah meresap dalam kehidupan pengerja/pengurus
gereja ? Berapa persenkah dari para peserta rapat
pendeta HKBP agustus 2005 ini yang terus menyetujui ‘pemotongan’,
“penundaan pengiriman’ atau apapun namanya, hingga kini
dapat tertawa dan menikmati keadaan semacam itu ?
Sementara itu, HKBP Pusat terus dituntut untuk mencetak
para pelayan yang siap pakai untuk menghadapi tantangan
global yang semakin kompleks. Sayangnya, tidak semua
aparatus dan sistim organisasi HKBP yang menumpu di
level yang lebih rendah mampu memaksimalkan peran mereka
dalam kehidupan menggereja di masing-masing distrik.
Akibatnya, sejumlah persoalan yang terjadi di huria/resort
dilimpahkan dan ‘menyeberang” ke kantor pusat HKBP
Pearaja-Tarutung. Hal itu menambah beban pusat. Dan ada
kemungkinan juga membuka ruang konflik peran antara
pusat-distrik.
Pergulatan HKBP yang tidak kalah beratnya adalah sistim
penggajian yang tetap masih tidak merata di setiap
tempat. Akibatnya tumbuh rasa ketidakadilan. Lalu, menimbulkan
polarisasi yang tajam antara : kota- desa,
daerahbasah-tidak basah dll. Termasuk juga, tidak
sedikit dari motif untuk melanjutkan studi lanjutan,
berhubungan dekat dengan akses yang lebih luas untuk
mendapatkan penempatan di daerah “basah” tersebut.
Menurut saya, inilah beberapa variable yang mendorong
suburnya koflik dalam siklus sejarah HKBP dari waktu ke
waktu. Meskipun, dengan cerdas sering disembunyikan
dalam warna ideologis/ide : antara kebenaran yang satu
dan kebenaran lainnya. Apabila pergulatan itu tetap
tidak menemukan solusi yang komprehensif, maka potensi
konflik HKBP tetap terbuka untuk meledak setiap saat di
masa mendatang.
Mudah-mudahan sebuah sistem pembinaan yang diperkenalkan
dan sedang berlangsung sekarang dapat didukung maksimal
oleh seluruh jemaat HKBP. Melalui sistim pembinaan baru
ini : berjenjang, berkelanjutan dan terpadu, HKBP dapat
mempersiapkan para pemimpin gerejawinya yang handal
menghadapi segala musim ujian dan tantangan. Serta siap
berkarya dalam seluruh aras pelayanan gerejani, baik di
tingkat : local, nasional dan internasional.
Dalam hal inilah, alangkah mulianya apabila kita, para
pelayan terus bersungguh-sungguh mendukung itu, serta
berupaya menyumbangkan pemikiran yang dapat menjadi
jalan keluar untuk menjawab persoalan/tantangan-tangan
di atas.
Mengembalikan HKBP kepada jatidirinya !
Dalam suatu pertemuan/diskusi informal : Ephorus HKBP
Pdt.Dr.B.Napitupulu bersama dengan 40-an lebih pendeta
muda yang melayani dan bermukin di Jabotabek pada hari
jumat, 5 Nov 2004 di Hotel Mandarin Jakarta ( Penulis
saat itu bertindak sebagai penggagas acara tersebut
dibantu penuh oleh sdr.Ir.Panangian Simanungkalit,MSc-
ahli property Indonesia yang cukup handal saat ini –
saudara Kristen yang baik juga, dengan tulus menjamu
seluruh keperluan kegiatan tersebut ), ompui Ephorus
HKBP melontarkan gagasan tentang “huria siparmahan
jolma”. Menurut beliau, sudah waktunya HKBP untuk
mengembangkan konsep palayan keumatan, yang
mengedepankan peran sosial gereja sebagai motor
penggerak kehidupan masyarakat. Beliau mengkonstatir,
terpuruknya pelayanan kesehatan dan pendidikan kita,
lebih disebabkan diabaikannya model pelayanan holistic,
yang telah dirintis sebelumnya. Padahal HKBP di hadapkan
dengan realitas umat yang terdiri dari tiga lapisan,
yaitu : masyarakat tradisionil/agraris, industri dan
informasi. Artinya gereja harus berperan maksimal untuk
menciptakan mekanisme kerja yang mampu untuk
menghubungkan ketiga lapisan tersebut. Itulah tugas kita
bersama, ujar beliau.
Bagaimana bentuk peran sosial gereja dalam realitas
masyarakat kita akan sangat ditentukan oleh konteks dan
konstalasi sos-pol-bud-ek di tempat kita masing-masing.
Dengan perkataan lain, gereja tidak boleh tinggal diam.
Gereja harus cerdik seperti ular dan tulus seperti
merpati. Diperlukan kepekaan membaca setiap perubahan
dan analisa yang akurat terhadap entitas hidup yang
mengitari kehidupan gereja. Pdt.Dr.Binsar Nainggolan,
yang baru saja menyelesaikan studi doktoralnya di
Universitas Regensburg, dalam disertasinya : “The
social Involvement of Adolf von Harnack, A Critical
Assessment”: , dengan tajam menyimpulkan bahwa,
keterlibatan sosial gereja bukanlah pilihan, melainkan
bagian integral pelayanan gerejani. Selanjutnya, gereja
yang alpa terhadap keterlibatan sosial, itu artinya
gereja yang memberikan dirinya menjadi lembaga yang
tidak relevan.
Mengembalikan HKBP kepada jatidirinya, artinya membawa
HKBP kembali kepada peran sejatinya sebagai penggerak
hidup masyarakat. Sebuah gereja yang turut menyiapkan
perubahan, baik orientasi hidup juga mentalitas yang
baru. Inilah yang mendorong umat untuk senantiasa
optimis, punya etos kerja yang tinggi, serta beretika
politik yang kristiani. Warga HKBP karena itu, tidak
akan mudah dirayu : apakah janji keberuntungan instant
togel, kenikmatan semu narkoba, kecanduan miras, agenda
politik
jangka pendek dari para politisi yang haus berkuasa, serta
kekerasan domestik di dalam rumah tangga. Gereja sebagai
siparmahan jolma dipanggil untuk memasuki pusat-pusat
kehidupan umat, melalui khotbah profetis, karya-karya
sosial gereja, serta pengembangan masyarakat yang
mengubah mentalitas kita sebagai pengikut kristus.
Meminjam istilah Peter L.Berger, seorang ahli Sosiologi,
kita tidak hanya mendengar “kabar angin dari langit”
lagi, melalui gereja mampu membumikan dan
mengkontekstualisasikan segenap ajarannya. Dan itu bisa
dipahami dan diterima dengan relevan oleh kaum peragu
sekalipun. Itulah Gereja siparmahan jolma.
Selamat mengikuti Rapat Pendeta, doa kami dari tempat
nun ‘jauh’ di sana !
 |