|
Pelayanan masyarakat Urban masa kini
( Catatan pengantar untuk Praeses baru di daerah urban )
Pdt.Maulinus U. Wellington Siregar*)
Pengantar
Selamat ! Suksesi HKBP 2004 baru usai. Kini, kita punya
pimpinan baru. Sinode agung 6-12 September lalu
berhasil memilih mereka secara demokratis, terbuka juga
konstitusional. Adalah menarik juga pimpinan baru ini (
Ephorus, Sekjen, kepala dep. Koinonia, Marturia dan
Diakonia ditambah 26 praeses ) mencerminkan
‘keterwakilan’ suara-suara yang masuk dari 25 ( 26 )
distrik yang mencalonkan mereka sebelum berlaga.
Prosedur, mekanisme serta sistim penyaringan
calon-calon pimpinan HKBP dalam konstitusi baru ini
sejatinya korelatif dengan hasil yang dicapai. Karena
itu, produk sinode ini lebih menguntungkan pimpinan baru
karena berhasil mendapatkan legitimasi organisasional
yang kuat. Perbedaan yang muncul di awal pra-sinode,
akhirnya dapat diterima secara elegan oleh sinodisten
karena berlangsung bersih, fair dan jujur.
Momentum ini harus diolah dan dimanfaatkan seefektif dan
sebaik mungkin. Pimpinan baru kita perlu dibantu
sehingga mereka mampu memainkan peran yang signifikan
dan menentukan di dalam mengartikulasikan hasil-hasil
keputusan sinode godang bagi kemaslahatan hidup seluruh
warga HKBP, pada dataran pelayanan di aras huria hingga
pusat. Selain itu, tugas penting lainnya yang harus
mereka kerjakan adalah mengkreasi dan menjabarkan tata
hidup menggereja HKBP 2004-2008 ( rencana induk )
mengacu pada tri tugas panggilan : koinonia, marturia
dan diakonia sebagai basis peletakan dasar visi dan misi
HKBP selaku gereja yang dialogis, terbuka dan inklusif.
Garis pemahaman 5 pemimpin kolektif di pusat akan
menentukan orientasi pelayanan makro HKBP, juga akan
menjadi titik acuan segenap pelayan HKBP di tingkat
huria sekalipun. Tentu, dengan harapan segenap warga dan
pelayan HKBP harus mendukung mereka secara
sungguh-sungguh. Inilah yang kita sebut penatalayanan
sinergis HKBP, apabila jemaat dan pelayan bekerja secara
bersama dalam daya dan dana, pengerja-jemaat membangun
hubungan komunikatif dan menjaga keseimbangan yang
sehat, yang akan menyuburkan serta memekarkan budaya
berpikir positif dan konstruktif.
Tulisan ini adalah catatan khusus bagi para bapak
praeses baru. HKBP telah memilih bapak-bapak dengan
amanat/tugas baru. Khususnya yang akan dipercayakan
melayani di daerah-daerah urban-perkotaan. Fungsi dan
peran praeses akan lebih besar sekaligus kompleks.
Praeses di daerah urban bukan sekedar pengawal dan
pelestari kegiatan seremonial-formal semata, melainkan
lebih pada usaha-usaha untuk menjajaki dan mengubah
paradigma pelayanan dan gerak pikir pendeta di wilayah
pelayanan dan juridiksinya. Dengan catatan, bapak-bapak
praeses akan melayani jemaat HKBP yang dinamis dan cepat
berubah. Selain itu juga warga jemaat HKBP semakin sadar
akan peran dan hak mereka sebagai bagian integral gereja
yang turut menentukan arah kehidupan bersama sebagai
Gereja. Karena itu, mereka telah cukup terbiasa hidup
dalam tradisi berpikir kritis dan kemungkinan juga
keras. Mengapa ? Sebab, setiap hari mereka bertarung
bahkan mungkin juga bertempur dengan kehidupan yang
keras : di tempat kerja dan lingkungan mereka. Siap ?
Semoga !
Peta pelayanan masyarakat urban
Identifikasi psiko-sosial masyarakat urban harus jeli
dipetakan. Ini menjadi sangat urgen mengingat perubahan
sosial masyarakat urban yang bergerak cepat. Social
rapid change-perubahan social yang berlangsung cepat,
sebetulnya gagasan yang telah menjadi pusat perhatian
peneliti sosiologi agama dalam beberapa dasawarsa
terakhir ini. Antara lain karena kekuatiran atas semakin
menurunnya jumlah anggota gereja arus utama dari waktu
ke waktu, baik karena keluar dari keanggotaan penuh
gereja atau juga karena sudah tidak tertarik lagi untuk
menghadiri kegiatan-kegiatan rutin gereja asal mereka.
Pertanyaan yang menelisik, apakah alasan itu disebabkan
kehadiran gereja yang tidak lagi memberi roh baru bagi
kehidupan mereka, atau disebabkan insignifikansi dan
irrelevansi gereja bagi kehidupan mereka sehari-hari ?
Pertanyaan ini masih tetap menjadi pertanyaan terbuka
yang terus mencari jawabnya !
Pengalaman gereja-gereja arus utama ini, khususnya di
negara-negara Barat, bahkan mungkin, diyakini betul,
segera dan sedang terjadi juga di beberapa gereja di
daerah urban yang padat dan kosmopolit di Indonesia.
Realitas-realitas : gereja yang kosong-melompong, dijual,
disewakan sebagai restoran, persinggahan sebentar (
halte bus ), mengurus seremonial orang meninggal, serta
tempat ritus budaya lestari.
Inilah yang akan menjadi tantangan gereja, kini dan di
masa datang. Masyarakat beradab urban-perkotaan, terus
menunjukkan wajah psiko-sosial-budaya yang berubah.
Dunia industri, iptek dan informasi adalah realitas
hidup sehari-hari yang terus gencar mengubah atau juga
membentuk watak, pola hidup, gaya dan juga selera
mereka. Lingkungan dan habitat itu juga yang mengubah
mentalitas masyarakat urban menjadi : impulsif, labil,
cepat marah, kurang sabar, kecemburuan yang tinggi,
konsumtif, banyak menuntut, kasar dan buas mudah
tersinggung dan suka menekan. Mentalitas yang telah
berubah ini pula yang menjadi bagian sadar yang telah
terbawa masuk ke dalam kehidupan bergereja. Iklim
kehidupan menggereja kita, jadinya tidak jauh dari
situasi dan praktek semacam itu.
Walahualam
!
Sementara
itu, sejumlah profesi yang geluti oleh warga urban
semakin beragam. Mulai dari : professional muda, tenaga
buruh biasa atau menejer di perusahaan Industri dan
pabrik, pegawai kantor pemerintah dan swasta ( pegawai
rendah-pejabat, menejer, komisaris atau CEO ), serta
yang bekerja di sektor informal : pedagang, supir,
kondektur, rentenir, bandar togel, juga barangkali :
mafia dan drug dealer. Masing-masing profesi tersebut
turut juga membentuk sistem nilai yang berbeda, serta
disparitas tata pikir, persepsi dan tingkat pemahaman
yang tidak selalu sama. Yang pasti jatidiri atau
karakteristik-temperamen itu yang menjadi prototipe
bawaan mereka dalam ranah kehidupan sebagai warga
masyarakat dan jemaat kita.
Menarik juga kultur masyarakat urban cenderung tidak
permanent. Sama seperti, dunia pekerjaan yang digeluti
secara tidak permanen, berubah-ubah dan berpindah dari
waktu ke waktu. Variabel ini akan juga menjadi bahan
pertimbangan yang mesti dicermati oleh setiap Praeses
HKBP dalam menentukan kebijakan-kebijakan dan program
kerja mereka. Artinya, kita mesti siap menerima
perubahan yang terjadi sekaligus menjawabnya melalui
berbagai kegiatan kreatif yang menolong menuntun dan
membimbing mereka sebagai jemaat yang dewasa dan
tangguh.
Isu-isu
sentral pelayanan masyarakat urban
Dinamika
sosial masyarakat urban akan berpusar pada tiga
kebutuhan riil, yaitu : pendidikan, kesehatan dan
jaminan sosial. Sentralnya ketiga kebutuhan itu,
mendorong setiap gereja-gereja untuk terus mempertajam
visi dan misi pelayanannya dengan tetap mensinergikannya
terhadap masalah-masalah pokok tersebut. Masyarakat
urban kerap kali dipusingkan urusan pendidikan anak,
rentannya tingkat kesehatan masyarakat serta kondisi
sosial masyarakat yang terus rawan dari berbagai bentuk
deviasi. Disamping itu, kesibukan kerja, kebisingan
hidup dan hiruk-pikuknya dunia kehidupan ( lebenswelt )
turut menambah ruwetnya kehidupan.
Situasi
tersebut menjadi tantangan dan peluang emas bagi kita
untuk terus menyiapkan perangkat pelayan yang aktual,
membumi dan relevan. Sentra-sentra kehidupan mereka
sebagai kelompok kerja profesi harus dimasuki dengan
pendekatan yang sejuk bersahaja serta menawarkan
berbagai metode pelayanan kreatif, yang betul-betul
dibutuhkan untuk membangun spirit mereka untuk terus
tegar sebagai orang beriman dalam lanskap kehidupan
komunitas kosmopolit, dengan tetap kukuh setia menjadi
pengikut Kristus. Jaringan pelayanan masyarakat urban
Kristen harus dibentuk. Memang, ada beberapa mitra
pelayanan telah terbentuk, seperti : pelayanan Zending
dan Diakoni sosial Jabotabek yang diperuntukkan bagi
pelayanan anak jalanan, korban narkoba, dan masyarakat
marjinal lainnya. Kelompok kerja semacam itu mestinya
harus dapat menjadi mitra kerja Praeses. Tugas-tugas
yang sudah mereka kerjakan dapat terus dilanjutkan.
Praeses dalam hal ini harus akomodatif dan lebih terbuka,
meski ada kemungkinan beragamnya pandangan yang
disampaikan kepada mereka. Disinilah ketrampilan
manejerial dan leadershipnyaseorang praese diuji dalam
mengelola segala bentuk keragaman tersebut.
Penting
diperhatikan, kebutuhan akan pendidikan yang berkualitas,
kesehatan yang baik, dan perlindungan sosial yang makin
terjamin adalah merupakan isu-isu sentral pelayanan
masyarakat urban kita masa kini. Praeses daerah urban
harus mampu mengelaborasinya dalam bentuk program kerja
distrik. Baik itu bersentuhan dengan pendidikan,
kesehatan dan sosial. Ada kritik berbagai kalangan,
mengapa HKBP tertinggal mengelola pendidikan TK dan
dasar di daerah urban Jakarta Raya dan sekitarnya.
Mengapa kita tertinggal dengan gereja-gereja urban
lainnya dalam melayani masyarakat di bidang kesehatan,
seperti klinik dan pengobatan masyarakat lainnya ?
Mengapa kita hingga kini masih tertinggal di bidang
pelayanan sosial yang holistik, bukan sekedar kegiatan
karitatif dan filantropis lainnya yang cenderung memberi
ikan bukan pancing. Lalu, mengapa pelayanan sosial
kepada penderita aids, narkoba dan korban togel belum
dikerjakan sebagai proyek bersama Gereja-masyarakat dan
pemerintah. Orientasi pelayanan semacam itu hanya mampu
dijabarkan praeses distrik daerah urban, apabila dengan
cakap mengerti dan memahami realitas masyarakat yang
dilayaninya.
Kemajemukan warga urban HKBP, sebetulnya adalah peluang
bagus untuk dikelola melalui ketrampilan mengorganisir
dan memobilisasi kesadaran partisipatif warga. Ini yang
akan terus mendorong mereka lambat-laut akan semakin
terlibat aktif dalam penatalayanan gerejani. Syukur,
bila akhirnya mereka menjadi mitra kerja yang baik.
Sikap menjauh akan segera berubah. Sekali itu menemui
momentumnya, para praeses harus cerdas mengelolanya.
Kecakapan dan perlengkapan analisis lapangan yang
diperlukan
Kwalifikasi dasar dan umum yang dirumuskan dalam
konstitusi baru HKBP adalah pengalaman kerja 15 tahun.
Pengalaman itu diandaikan cukup memenuhi kemampuan dan
kecakapan dasar rata-rata untuk mengenal medan pelayanan
yang lebih besar, yaitu : distrik. Asumsi inilah yang
dipakai sebagai perameter dalam mengukur tingkat
kecakapan praeses menguasai lapangan. Terlepas tentunya,
apakah ia cukup berprestasi dalam 15 tahun masa
pelayanannya tersebut, sebab yang sering menjadi titik
acu adalah daya terima dan daya jualnya kepada
sinodisten, berdasarkan cerita dari mulut-mulut,
pengenalan sepintas atau mungkin juga kampanye
kecil-kecilan ala HKBP.
Perangkat
ilmu sosial yang memadai kini semakin kita perlukan. Itu
berarti setiap praeses yang bertugas di daerah urban
harus rajin mengelola potensi yang dimiliki warga HKBP
terdidik sebagai mitra diskusi dalam melihat dan
mengkaji berbagai isu-isu yang sedang trend, pop dan
kontemporer. Kepekaan semacam ini terus diperlukan
untuk melihat setiap perubahan itu dengan jernih dan
sungguh-sungguh. Jadi harus terus ditumbuhkan sense of
urgency, dengan rajin melihat semua fenomena yang
menggejala, terlebih peristiwa-peristiwa
monumental/instrumental yang telah terjadi di depan mata.
Ketekunan, kerajinan, dan kesungguhan adalah tool
alamiah yang diperlukan setiap pemimpin.
Dengan itu, tercermin jelas konsep, pemahaman dan
pengertian yang utuh atas situasi lapangan.
Belajar
dari pengalaman masyarakat urban yang dinamis, kompleks
dan rentan dengan beraneka ragam konflik, dari para
bapak praeses dituntut kecapakan menguasai peta konflik
dan pengertian dasar teori-teori masyarakat, khusus
daerah urban. Dengan kecakapan itu, andai ditemukan
konflik di lapangan, maka secara arif akan
dideskripsikan dahulu secara objektif , lalu dipecahkan
di level distrik, dengan tetap menghindari campur-tangan
pusat. Kecuali isu itu sudah bersifat nasional.
Bayangkan, apabila masalah perpindahan seorang pendeta
huria harus melibatkan campur-tangan Ephorus. Bukankah
hal itu sangat naïf mengingat wewenang dan legitimasi
Praeses, semestinya telah cukup memadai untuk
memecahkannya ! Itulah antara lain kendala-kendala di
lapangan yang tidak jarang ditemukan di lapangan.
Disamping
itu, tentunya, Praeses daerah urban mesti juga punya
kecapakan menejerial dan pengenalan kultur organisasi
yang baik. Ini akan membantunya membangun kerjasama,
menggalang dukungan dari berbagai pihak untuk
mengimplementasikan kegiatan-kegiatan ceremonial dan
aktual distrik. Sejauh ini kemampuan seperti itu sering
berkembang, bila bapak praeses kita aktif dan rajin
mengikuti kegiatan-kegiatan pengembangan diri yang
sifatnya menambah wawasan dan semakin mempertajam
analisis lapangan. Ini terasah, bila aktifitas lapangan
kita tidak mengenal medan tunggal di satu segmen saja,
melainkan harus seluas mungkin membangun jaringan kerja
dengan berbagai gereja lainnya di wilayah kerja kita,
bahkan menembus dialog lintas umat dan kepercayaan.
Inilah yang kita sebut kecakapan plus yang diperlukan
dalam era pluralisme masa kini.
Akhirnya, mudah-mudahan sumbang-saran ini bermanfaat.
Perlu ditegaskan, pokok pikiran ini bukan bermaksud
menggurui, melainkan karena persahabatan sejati dan
parhahamaranggion yang dipahami dalam arti yang
seluas-luasnya.
Kiranya Tuhan memberkati pelayanan bapak-bapak Praeses
di daerah urban kelak.
 |